Di sebuah sel yang tak terlalu luas, di balik tembok dingin dan jeruji besi milik Komisi Pemberantasan Korupsi, terdengar tawa yang justru terasa ganjil bagi orang luar.
“Ah, kopi di sini kurang panas,” keluh Pak Arman sambil menyeruput perlahan.
“Sudahlah, Man. Anggap saja ini retreat versi sederhana,” jawab Pak Bima santai, sambil menyandarkan punggungnya ke tembok. “Gratis pula.”
Mereka tertawa.
Tak ada wajah muram. Tak ada ratapan penyesalan. Yang ada justru obrolan ringan, seperti dua sahabat lama yang sedang menikmati waktu senggang di vila, bukan di ruang tahanan.
Hari-hari di balik jeruji itu berjalan dengan ritme yang aneh—teratur, tapi santai. Bangun pagi, sarapan, sedikit olahraga, lalu berbincang panjang tentang masa lalu… atau lebih tepatnya, tentang “kejayaan”.
“Ingat proyek itu?” kata Pak Arman sambil tersenyum tipis. “Kalau tidak ada kejadian ini, mungkin kita sudah tambah satu rumah lagi di luar negeri.”
Pak Bima mengangguk. “Ya, tapi lihat sisi baiknya. Di sini kita justru punya waktu istirahat. Tidak ada rapat, tidak ada tekanan media setiap hari.”
“Betul juga,” sahut Pak Arman. “Dulu hidup kita terlalu sibuk… sibuk menyusun ini-itu.”
Mereka kembali tertawa. Tawa yang ringan, seolah-olah semua yang terjadi hanyalah jeda kecil dalam perjalanan panjang hidup mereka.
Di sore hari, mereka duduk di sudut ruangan, menikmati cahaya matahari yang masuk dari celah kecil.
“Aneh ya,” kata Pak Bima pelan. “Dulu kita takut kehilangan jabatan. Sekarang, yang kita rasakan justru… tenang.”
“Karena semua sudah lewat,” jawab Pak Arman. “Tidak ada lagi yang perlu dikejar. Tinggal menjalani.”
“Dan menunggu,” tambah Pak Bima.
“Menunggu apa?”
“Menunggu keluar… dan mungkin mengulang hidup lagi.”
Pak Arman terdiam sejenak. Lalu tersenyum.
“Semoga kali ini kita lebih bijak,” katanya, meski nada suaranya terdengar setengah bercanda.
Namun, tidak semua cerita di balik jeruji berakhir dengan tawa yang sama.
Di blok lain, ada yang lebih sering diam. Ada yang mulai gelisah saat malam datang. Ada yang menatap langit-langit sel dengan pikiran yang tak lagi bisa ditertawakan.
Pertanyaan pun muncul—pelan, tapi terus mengusik:
Apakah mereka menyesal?
Jawabannya… tidak sesederhana itu.
Sebagian memang akhirnya menyesal. Bukan hanya karena kehilangan jabatan atau kebebasan, tapi karena mulai menyadari bahwa angka-angka yang dulu mereka mainkan itu ternyata adalah hak orang banyak—uang sekolah, rumah sakit, jalan, dan harapan rakyat kecil. Penyesalan itu biasanya datang terlambat, saat kesunyian lebih jujur daripada tepuk tangan masa lalu.
Namun, ada juga yang tidak benar-benar menyesal.
Mereka hanya menyesali nasibnya tertangkap. Menganggap semua ini sebagai “risiko jabatan”. Bahkan di dalam sel, mereka masih berbicara tentang peluang, koneksi, dan rencana setelah bebas—seolah yang terjadi hanyalah jeda, bukan pelajaran.
Dan yang paling banyak… berada di tengah-tengah.
Antara sadar dan menyangkal.
Antara merasa bersalah dan mencari pembenaran.
“Semua orang juga begitu,” kata sebagian dari mereka dalam hati.
“Ini sistem,” bisik yang lain.
Kembali ke sel Pak Arman dan Pak Bima.
Malam itu lebih sunyi dari biasanya.
“Bim,” kata Pak Arman pelan, “menurutmu… kita ini salah, atau cuma sial?”
Pak Bima tidak langsung menjawab. Ia menatap ke depan, lama.
“Aku dulu pikir kita pintar,” katanya akhirnya. “Sekarang… aku tidak yakin.”
“Menyesal?” tanya Pak Arman.
Pak Bima menarik napas panjang.
“Kadang,” jawabnya jujur. “Tapi lebih sering… aku tidak tahu harus menyesali yang mana dulu.”
Pak Arman tersenyum tipis. Bukan tawa seperti sebelumnya.
“Berarti kita masih manusia,” katanya.
“Ya,” sahut Pak Bima. “Masih… atau baru mulai jadi.”
Di balik jeruji itu, waktu berjalan pelan.
Dan di antara canda yang terdengar ringan, tersimpan satu hal yang tak bisa dihindari:
Bahwa suatu hari, setiap tawa akan berhadapan dengan sunyi—
dan di sanalah, penyesalan… benar-benar menemukan suaranya.


0 Komentar